| Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) |
A. Ciri-ciri Jamur Tiram
Jamur tiram merupakan jamur dari kelompok Basidyomicetes. Disebut jamur tiram karena tudung tubuh buahnya menyerupai cangkang tiram. Warna jamur tiram sangat beragam, mulai dari putih, putih kekuningan, kuning, abu-abu, abu-abu kecoklatan, coklat, merah, pink hingga biru. permukaan tudung tidak licin namun tidak lengket, berdiameter 3-15cm.
Sebagian besar jamur tiram memiliki tangkai yang bercabang, tubuh/batangnya berwarna putih, pendek dan menyamping. Umumnya jamur tiram tumbuh bergerombol. Jamur tiram berdaging tebal, kenyal, dan bertekstur mirip daging ayam. Jamur tiram tumbuh subur pada kayu atau pohon yang sudah mulai melapuk di hutan yang sejuk. Oleh sebab itu, jamur tiram termasuk jenis jamur kayu.
B. Sumber Makanan Jamur
Jamur merupakan organisme mirip tumbuhan tetapi tidak memiliki klorofil seperti tumbuhan. Sehingga jamur harus memperoleh makannya dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai sumber makanan, sehingga jamur disebut organisme "heterotrof", oleh sebab itu jamur menempel pada substrat yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi jamur itu sendiri untuk memperoleh makanan dan tidak memerlukan sinar matahari langsung dalam fase hidupnya.
Jamur mengambil zat-zat makanan seperti selulosa, glukosa, lignin, protein, serta ekstrak dari senyawa lain yang dihasilkan oleh tumbuhan tempat ia menempel. Di alam bebas kita banyak menemukan jamur tiram tumbuh subur di hutan-hutan, dengan menempel pada pepohonan yang sudah lapuk. Itulah sebabnya untuk membudidayakan jamur tiram, salah satu substrat yang bagus untuk digunakan adalah limbah serbuk gergaji kayu dan usahakan jamur terhindar dari pancaran sinar matahari langsung. Budi daya jamur tiram diusahakan sebisa mungkin mengikuti habitat alami jamur tiram di alam bebas. Oleh karena itu pengendalian iklim mikro dan rekayasa lingkungan perlu dilakukan. Saat membuat media tanam pun, agar jamur tiram dapat tumbuh subur, maka harus memenuhi nutrisi jamur tiram itu sendiri.
C. Siklus Hidup Jamur
Siklus hidup pada jamur berawal dari spora lalu berkembang menjadi hifa dan hingga akhirnya menjadi tubuh buah, yaitu bentuk dewasa jamur itu sendiri.
1) Spora
Jamur berawal dari spora. Spora berukuran sangat kecil dan ringan sehingga mudah terbang dan menyebar keberbagai tempat dengan bantuan angin (anemogami). Spora yang telah matang akan terlepas dari tubuh buah jamur kemudian jatuh dan menempel di berbagai tempat. Spora akan tumbuh bila jatuh di tempat dan lingkungan yang cocok.
Suhu, kelembaban, dan sumber makanan merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan spora sampai menjadi jamur. Jika spora terjatuh pada tempat yang kurang mendukung pertumbuhannya, spora akan bertahan cukup lama hingga kondisi tempat ia menempel dapat mendukung syarat pertumbuhannya.
2) Hifa
Ketika kondisi lingkungan sudah memadai untuk pertumbuhan spora, maka spora akan mulai berkecambah. Kecambah yang dibentuk spora berupa benang-benang tipis berwarna putih yang disebut hifa. Fungsi hifa hampir sama dengan fungsi akar pada tumbuhan, yaitu menyerap sumber nutrisi.
3) Miselium
Hifa akan terus tumbuh dan menyebar. Pertumbuhan hifa yang bercabang-cabang dan saling tumpang tindih disebut miselium. Miselium berwarna putih seperti kapas dan akan menutupi seluruh permukaan media tumbuh.
4) Pin Head
Pin head akan tumbuh dari miselium yang saling menumpuk dan membentuk benjolan atau gumpalan kecil seperti kancing. Pin head ini nantinya akan berkembang menjadi jamur dewasa, dari tudung yang menguncup kemudian menjadi mekar menjadi setengah lingkaran seperti cangkang tiram pada jamur tiram.
5) Jamur Dewasa
Dua sampai empat hari setelah kemunculan pin head, jamur mulai memasuki fase dewasanya. Jamur dewasa akan kembali menghasilkan spora. Spora dihasilkan oleh serat-serat halus di bawah tudung jamur yang disebut lamela. Di dalam lamela ini terdapat basidium, yaitu sel-sel penghasil spora.
![]() |
| Struktur jamur dewasa (tubuh buah jamur) |









